Peluang bagi industri perangkat lunak (software) di Indonesia saat ini makin terbuka dan menjanjikan. Hal ini membuat Indra Sosrodjojo, Direktur Andal Software mencoba peluang di bisnis ini. Perjalanan bisnisnya dimulai di tahun 1988. PT Grahacendekia Inforindo adalah cikal bakal nama perusahaan dari PT Andal Software. Dengan pengalaman yang minim, modal kecil, dan belajar menjual software perusahaan yang telah berdiri 20 tahun ini dahulu mengawali bisnisnya dengan model custom made. 

“Dulu kami mulai dari custom made. Custom made itu, artinya kami terima pesanan atau jasa. Jadi customer minta program yang seperti apa, kami buatkan”, kenang Indra.

Indra melanjutkan, dipilihnya model custome made ini dikarenakan modal yang dikeluarkan sedikit dan tentunya ketika akan menggunakan jasa perusahaannya para customer harus mengeluarkan uang muka terlebih dahulu. Itulah strategi yang digunakan perusahaannya untuk berdiri. Di lain pihak, karena semangat jiwa wirausahanya dan pengalaman-pengalaman yang ia dapat, maka di tahun 1992 perusahaannya memutuskan untuk berekspansi membuat produk software.

“Di tahun 1992,kami pertama kali membuat software mass market. Presisi General Ledger itu nama produk pertama kami. Diterbitkan oleh Elex Media Komputindo dan dijual melalui toko-toko buku seperti Gramedia. Produk itu laku terjual hingga ribuan”, tuturnya.

Kemudian tak puas sampai software mass market saja, pada tahun 2001 Andal Software mulai mengambangkan aplikasi Paket enterprise yang bernama Kharisma Win, paket aplikasi untuk HR, Payroll, PPh 21 dan attendance. Saat sekarang ini Andal Software hanya fokus pada aplikasi HR, Payroll, PPh 21 dan Attendance. Ada tiga produk Andal Time Tracker untuk aplikasi attendance beserta cuti, shift, Overtime berikut dengan SPLnya. Andal PayMaster aplikasi untuk perhitungan Payroll, PPh 21, dan attendance. Dan Andal Kharisma aplikasi untuk HR, Payroll, PPh 21 dan attendance.

Namun bukan hanya manisnya saja yang diterima, pahitnya pun juga pernah dirasakan Andal. Andal pernah ditinggalkan oleh kliennya ketika dipuncak kesuksesan, dikarenakan kesalahan pada strategi bisnisnya.

“Waktu dulu kita buat software mass market kan yang nge-drive kita kan, nah di software enterprise ini kita juga melakukan itu. Tapi kenyataannya, berbeda dengan yang ada di lapangan. Jadi ketika produk itu dijual maka kami harus melakukan customisasi sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Di sisi lain, memang sales-nya naik 2 kali lipat tapi kami tidak menyadari bahwa custumisasi perlu waktu dan banyak sekali customisasi yang kami kerjakan molor, akhirnya di situlah kami ditinggalkan oleh klien”, terangnya. 

Dari situlah Andal belajar dari pengalaman-pengalaman dan akhirnya di tahun 2004, Andal mengeluarkan produk Andal Pay Master. “Andal Pay Master ini, produk penyelamat kami”, ujarnya sambil mengenang. Pertumbuhan penjualan Andal pay master ini dari tahun ke tahun tumbuh 80 persen.

Kemudian di tahun 2013, Andal akan melakukan launching produknya yaitu Andal Paymaster 2014. Menurut Indra, akan ada perbedaan di produk barunya tersebut. Untuk pasarnya sendiri, Andal akan lebih memfokuskan untuk pasar Indonesia.