Sebagai salah satu kota tersibuk di dunia, harus diakui Beijing memiliki kualitas udara yang cukup buruk. Sayangnya, pihak pemerintah setempat seperti enggan memberikan informasi tersebut secara langsung kepada masyarakat.

Permasalahan ini coba dipecahkan oleh sepasang mahasiswa pascasarjana dari Carnegie Mellon University. Mereka mencoba menggabungkan antara teknologi, desain, aktivisme lingkungan dan tradisi lokal layang-layang. Kedua mahasiswa yang bernama Deren Guler dan Xiaowei Wang ini menciptakan FLOAT Beijing, sebuah proyek untuk mendeteksi kualitas udara dengan menggunakan layang-layang yang dilengkapi dengan sensor kualitas udara. Hal ini memungkinkan warga negara untuk turut aktif dalam pemantauan udara di lingkungan mereka.

Masyarakat yang menggunakan layang-layang ini dapat memantau kualitas udara dengan melihat data visual melalui LED serta data yang tersimpan pada kartu SD. LED pada layang-layang diprogram untuk menunjukkan kualitas udara dengan warna yang berbeda. Warna hijau berarti baik dan pink artinya buruk. Data interaktif dipetakan secara real-time menggunakan geolocation. Ide dasarnya untuk menerangi langit dengan layang-layang sensor yang akan memberikan pengertian umum tentang seberapa baik atau buruk polusi udara.

Hmm,,sepertinya boleh juga dicoba di Indonesia.