Di masa revolusi kemerdekaan 45, rakyat Indonesia tak kurang akalnya dalam melawan penjajah. Senjata apa pun bisa mereka gunakan, walaupun bukan senjata api. Semangat perjuangan kaum pemuda untuk merebut kemerdekaan sangat dikenal dengan semangat “bambu runcing”, bahkan ada laskar perjuangan yang disebut Laskar Bambu Runcing, dengan semboyan yang berapi-api: “Merdeka atau mati!”.

Kita memang tidak boleh menukik dalam nostalgia secara terus-menerus. Kalau kita melihat di sekeliling kita, dalam zaman yang serba modern dan canggih ini, pohon-pohon bambu yang bertebaran di kebun-kebun maupun di hutan-hutan, mungkin hanya dilirik dengan sebelah mata untuk dimanfaatkan secara ekonomis dalam skala tertentu.

Namun di Ghana, sebuah negara yang sedang meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka kemacetan lalu lintas juga tidak asing bagi daerah perkotan, yang kadang-kadang memiliki perbedaan yang tajam dengan daerah pedesaan. Salah satu faktor penting dalam mendorong kewiraswataan (entrepreneurship) adalah penggalian ide dalam usaha ekonomi, yang mampu mengikuti isu dan tuntutan aktual yang mendesak. Maka dengan sigap di negeri itu terbentuklah Bamboo Bikes Initiative. Menarik bukan? Dengan tujuan utama adalah pemberdayaan kaum perempuan, kaum muda, bahkan kanak-kanak, agar memiliki ketrampilan dan sekaligus juga kecintaan terhadap sepeda. Inisiatif ini tentu saja sangat bermanfaat untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan mampu mengurangi emisi CO2 dan  polusi dalam lingkungan hidup. Tentu saja peralihan penggunaan dari kendaraan bermotor roda empat dan roda dua ke sepeda secara drastik memang tidaklah mungkin. 

Sebelum melangkah ke bidang produksi, Bamboo Bikes menjalin kemitraan dengan Ibrahim Djan Nyampong, pemilik Africa Items Co. Ltd di Accra. Mereka bertekad untuk memproduksi sepeda yang kerangkanya terbuat dari bambu dengan kualitas yang prima, lebih kuat dan tahan lama. Mereka melatih kaum muda Ghana untuk merakit dan memasarkan kerangka sepeda bambu. Bamboo Bikes membayar upah 30 dolar untuk setiap kerangka, dan menjualnya dengan harga 200 dolar per kerangka. Menurut Ibrahim Djan Nyampong, “kerangka bambu lebih tahan lama daripada kerangka metal. Anda mungkin tahu bahwa bambu tidak akan patah dan ketahanannya dapat diandalkan. Setelah dilakukan test di Jerman, terbukti bahwa kerangka bamboo 16 kali lebih ringan daripada kerangka metal. Bambu mengandung serabut, karena itu dapat menyerap dan menahan tekanan goncangan, sehingga tentu saja mengurangi getaran-getaran, dan tidak memerlukan per-per baja atau titanium. Selain itu, sebelum kerangka diproduksi, bamboo itu telah diproses selama tiga sampai enam bulan, agar tahan untuk tidak terbelah dan anti rayap, serta dibalut dengan pernis untuk melindungi terhadap air hujan dan kerapuhan.     

Tampaknya langkah untuk memasarkan secara internasional mulai dirintis. Sebuah perusahaan Austria, BambooRide telah mengimpornya untuk kemudian dijual di Eropa. Menurut Mathias Schmidt, manajer penjualan BambooRide, produksi kerangka bamboo dari Ghana harus disesuaikan dengan standar Eropa. Harus ada pengalihan pengetahuan secara timbal-balik, untuk menjaga presisi dan marjin kesalahan. Perusahaan Austria itu kini baru mengimpor 10 kerangka setiap bulan. Nah, apakah ada perusahaan impor Indonesia yang tertarik, atau mungkin kita mampu memproduksi sendiri. Kita lihat saja nanti.