Penulusuran hewan laut seperti paus dan lumba-lumba ternyata lebih sulit ketimbang dengan hewan darat. Di mana teknologi untuk memantau hewan darat sudah diketahui. Hal ini membuat peneliti dari Denmark penasaran dengan permasalahan ini. Temuan ini dirinci dalam dua penelitian yang diterbitkan 29 Agustus 2012 di jurnal PLoS ONE.

Phlip Francis Thomsen peneliti postdoctoral dari Universitas Copenhagen, Denmark menuturkan bahwa hewan di bawah permukaan laut di seluruh dunia.

“Kita dapat melacak semua hewan di bawah permukaan laut di seluruh dunia, memantau dan melindungi laut dan sumber dayanya dengan lebih baik,” katanya yang dikutip dari Tempo.

Dalam salah satu penelitian, Thomsen dan rekan-rekannya menemukan DNA dari 15 spesies ikan hanya dalam setengah liter (17 ons) air laut. Namun sebelumnya, Thomsen menemukan bahwa sampel air tawar berisi penanda genetik dari sejumlah hewan yang berbeda. 

“Kami menemukan DNA dari ikan besar dan kecil, spesies umum dan langka. Ikan cod, herring, plaice, sarden, belut dan masih banyak lainnya yang meninggalkan jejak DNA dalam air laut,” ujarnya.

Namun bukan perkara mudah penelusuran lumba-lumba dibutuhkan effort yang lebih. Sebab metode DNA Thomsen tidak sehandal metode deteksi akustik yang biasa digunakan untuk memantau populasi lumba-lumba. Namun, metode DNA dapat merekam materi genetik spesies langka yang terkandung dalam sampel air. Ini tidak dapat dilakukan metode deteksi akustik yang lebih mengandalkan pada rekaman suara.

Thomsen yakin optimasi metode ini untuk pengolahan volume air laut yang lebih besar dapat digunakan untuk mendeteksi segala spesies mamalia laut.