Kabar buruk datang dari Bank Dunia. Kamis kemarin lembaga ini mengatakan, kekeringan di pusat-pusat tanaman Amerika Serikat dan Eropa Timur menyebabkan harga pangan global melonjak sebesar 10 persen pada bulan lalu, dan ini meningkatkan ancaman ketahanan pangan bagi orang miskin di dunia.

Lonjakan harga, terutama disebabkan oleh gelombang panas yang menghancurkan banyak ladang pertanian di Amerika, sebagai penghasil tanaman jagung (maizena) dan kedelai terbesar di dunia, seperti yang dilaporkan AFP.

Dari Juni hingga Juli, harga jagung dan gandum melonjak sebesar 25% sedangkan kedelai naik 17%. Harga jagung dan kedelai melampaui rekor harga tertinggi mereka sebelumnya dalam krisis harga pangan Juni 2008. Sementara harga beras 4% lebih rendah.

“Harga pangan yang naik lagi secara tajam mengancam kesehatan dan kesejahteraan jutaan orang,” kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam sebuah pernyataan.

“Afrika dan Timur Tengah sangat rentan, namun begitu juga orang-orang di negara-negara lain di mana harga biji-bijian sudah naik tiba-tiba.”

Bank Dunia menyebut negara-negara di Timur Tengah dan Utara serta Sub-Sahara Afrika “yang paling rentan terhadap guncangan global.”

“Mereka memiliki tagihan impor pangan yang besar, konsumsi makanan mereka adalah bagian besar dari rata-rata pengeluaran rumah tangga, dan mereka memiliki ruang fiskal yang terbatas serta mekanisme perlindungan relatif lemah,” Bank Dunia mengatakan dalam laporan Pantauan Harga Pangan (Food Price Watch).

“Harga pangan dalam negeri di wilayah ini juga mengalami kenaikan tajam bahkan sebelum guncangan global karena tren musiman, panen lalu yang buruk dan konflik,” katanya.

Bank Dunia mengatakan bahwa pengalihan jagung untuk memproduksi bahan bakar nabati (biofuel) etanol — yang meningkat menjadi 40 persen dari produksi jagung AS — merupakan faktor kunci dalam kenaikan tajam harga jagung.

Untuk menghadapi hal ini, banyak pihak yang meyakini bahwa solusinya adalah optimalisasi inovasi dan teknologii bidang pangan. Presiden SBY sendiri menyatakan perlunya kontribusi teknologi dan inovasi dalam upaya mencapai kemandirian pangan bagi sekitar 240 juta rakyat Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Presiden Yudhoyono dalam peringatan ke-17 Hari Teknologi Nasional di Bandung, Jawa Barat, Kamis kemarin.

“Pikirkan kontribusi teknologi dan inovasi menuju kemandirian pangan,” kata Presiden di depan para peneliti.

Menurut Presiden, keamanan dan kemandirian pangan menjadi hal penting bagi Indonesia mengingat rakyat Indonesia berjumlah cukup besar.

Ia menyebutkan pengaruh perubahan iklim, ketidakstabilan harga pangan, dan perubahan kebijakan negara penghasil pangan sebagai hal yang berpengaruh pada stabilitas pasokan pangan dunia.