Masih ingat dengan tren revolusi Timur Tengah beberapa waktu lalu? Wail Ghonim, seorang demonstran sekaligus marketing executive Google asal Mesir menyebut peristiwa ini sebagai Revolusi 2.0. Revolusi 2.0 mengacu pada perkembangan jaringan internet terkini yang memungkinkan user berinteraksi sehingga bersifat dua arah.

Pemanfaatan jejaring sosial pada revolusi Timur Tengah memang mengajarkan kepada kita betapa dahsyatnya dunia maya. Tak heran jika saat ini banyak yang memanfaatkan atau bahkan menciptakan jejaring sosial dengan berbagai tujuan. Mulai dari propaganda maupun ladang bisnis semata.

Hal inilah yang juga dilihat oleh Rama Manusama, seorang putera asli Indonesia yang tinggal di Belanda sebagai peluang. Rama bersama tiga orang lainnya memutuskan untuk membuat forum media maya dengan nama Criticube.com yang dirilis pada Februari 2012.

Criticube sendiri merupakan forum social media yang bisa digunakan untuk saling sharing pengetahuan, fakta serta pemikiran. Setiap topik diberikan tempat dalam sebuah “cube”. Setiap pengguna berhak menuangkan suatu persoalan untuk kemudian di chalange ataupun disetujui oleh pengguna lainnya.

“Saat ini user kita mencapai 500 dari seluruh dunia dengan traffic sekitar 200-1000 unique per hari,” terang Rama.

Dengan modal dari tabungan pribadi sebesar US$ 200, Rama meninggalkan posisinya sebagai staf finance di perusahaan ternama ini untuk membangun Criticube. Dibutuhkan waktu setidaknya 3 bulan untuk membangun Criticube sampai siap diluncurkan.

“Sekitar bulan Juni 2012 kita merilis ulang platform Criticube dengan tampilan yang lebih simpel,” ujar Rama.

Menurut Rama, kesulitan pada masa-masa awal justru keterbatasan SDM. Di negara maju, engginer terbatas karena sangat dibutuhkan oleh banyak perusahaan. Hal ini diatasi dengan terus belajar teknis.

Meskipun masih termasuk start-up, Criticube telah meraih beberapa prestasi. Diantaranya sebagai nominator Accenture Inovation Award 2012 untuk kategori Komunikasi, Media dan Teknologi. Accenture Inovation Award merupakan penghargaan tahunan di Belanda kepada perusahaan-perusahaan dengan inovasi yang luar biasa. Sebanyak 1441 perusahaan menjadi nominator tahun ini. Selain itu, Criticube juga terpilih dalam Startupplays sebagai “Top 35 Startup Tech”.

Untuk menopang keuangan perusahaan, Criticube juga mengalokasikan 2,9% saham perusahaan pada Synbid yang memungkinkan perusahaan mendapatkan suntikan dana dalam skala kecil dari investor. Saat ini, dana untuk Criticube yang terkumpul lewat Synbid mencapai € 824.000. Dana ini akan digunakan untuk membangun Criticube ke depan.

Sebagai perusahaan baru, Criticube saat ini memang belum memiliki pemasukan. Namun, pihak pengelola telah merencanakan untuk mendapatkan keuntungan dari ads, pendanaan Synbid serta premium user.

“Tantangan kita sekarang bagaimana mengkonversi dari unique visitors menjadi member,” tambahnya.