Walaupun bukan buah-buahan asli Indonesia, tapi potensi Alpukat (Persea Americana Mill) di negeri ini juga tak bisa diremehkan. Sayangnya buah yang mengandung banyak lemak ini hanya dimanfaatkan untuk es buah atau sejenisnya. Padahal jika ada teknologi pengolahan yang bagus tentu akan memberikan nilai tambah yang membuat harga alpukat menjadi lebih tinggi dan menguntungkan bagi petani.

Penelitian dan tawaran teknologi pengolahan karya dua mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta ini mungkin menarik untuk diaplikasikan.  Fransiscus Iwan Susilo, dan Niken Istikhari Muslihah sukses mengolah alpukat  menjadi permen antioksidan.

Selain rasanya yang lembut, alpukat juga mengandung zat-zat yang berguna bagi kesehatan manusia. “Buah yang masuk dalam keluarga Lauraceae itu, fungsinya tidak sekadar sebagai pengenyang perut karena kandungan lemak tak jenuhnya, tetapi juga sebagai antioksidan,” kata Niken Istikhari Muslihah di Yogyakarta, Rabu. Menurut dia, buah berbentuk oval ini mengandung vitamin E dan A.

fungsi lainnya, alpukat juga dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol darah dengan kandungan flavonoid dan tanin, serta dapat diandalkan sebagai penetral radikal bebas dan mengurangi kerusakan sel dalam tubuh.

Niken menambahkan, proses pembuatan permen antioksidan dilakukan dengan cara 200 mililiter ekstrak etanol alpukat dimasak hingga mendidih, kemudian ditambah dengan 50 mililiter air untuk menghilangkan etanol yang masih tertinggal di dalam ekstrak tersebut.

Selanjutnya ditambahkan 100 gram gula dan 0,75 gram glukosa. Dalam proses ini dilakukan pengadukan hingga mengental, setelah mengental adonan permen ditambah dengan lima tetes essen kemudian dicetak, katanya.

Fransiscus Iwan Susilo mengatakan untuk pembuatan ekstrak etanol dilakukan dengan cara alpukat sebanyak 500 gram diblender hingga lembut, kemudian ditambah dengan satu liter etanol dan aduk hingga homogen.

Menurut dia, campuran tersebut didiamkan selama empat hari dan mengambil filtratnya. Filtrat diendapkan selama satu hari, dan menguapkan pelarut dengan menggunakan “vacuum rotary evaporator“.

Ekstrak yang diperoleh dibuat variasi konsentrasi dengan pelarut akuades, yakni sebesar 25 persen, 50 persen, 75 persen, dan 100 persen. Variasi konsentrasi tersebut diuji kadar antioksidannya,ujar Iwan. Semoga saja ada investor yang berminat untuk mengembangkan dan memproduksi permen alpukat anti oksidan ini. Siapa tahu bisa jadi komoditas unggulan.