Kumi Naidoo, Direktur Eksekutif Internasional Greenpeace dalam aksi menduduki (occupy) platform pengeboran minyak Arctic menyatakan dengan tegas, “Es Arctic yang meleleh bukan peluang bisnis. Itu adalah peringatan bagi kita. Kami ingin menarik perhatian global mengenai perjuangan lingkungan hidup yang menentukan di zaman kita. Waktu berpacu dengan kita untuk mencegah malapetaka perubahan iklim.”

Setelah 15 jam melakukan pendudukan (occupation) pada platform pengeboran minyak Rusia, Priraziomnaya yang dimiliki oleh Gazprom di Laut Pechora, pada hari Jumat yang lalu, jam 4 pagi, akhirnya enam aktivis Greenpeace itu meninggalkan platform demi keselamatan mereka.

“Kami memanjat platform minyak Gazpform didukung oleh lebih dari sejuta orang yang telah ikut serta dalam gerakan baru untuk melindungi Arctic. Kami di sini atas nama mereka. Kami juga berdiri bahu-membahu dengan Rakyat Pribumi Rusia, yang baru seminggu yang lalu menandatangi statement menentang pengeboran minyak lepas pantai, di area yang berdekatan dengan wilayah tradisional mereka.” Terkilas raut sedih membayang di wajah Naidoo. Namun, ia kembali tegar ketika menyatakan:

“Begitu pula rencana Shell untuk melakukan pengeboran minyak di Alaska. Ini bukan soal akan terjadi tumpahan minyak, tetapi kapan. Satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya malapetaka tumpahan minyak dalam lingkungan hidup yang unik ini adalah, secara permanen melarang pengeboran minyak.”

Sejarah petualangan Greenpeace yang menantang bahaya dan maut demi penyelamatan lingkungan hidup dan kehancuran Bumi Ibu (Mother Earth), dan perdamaian dunia, rasanya perlu kita acungi jempol. Masih ada perlawanan pejuang-pejuang non-kekerasan menghadapi keserakahan penimbun dolar.  Sayup-sayup membayang kapal Greenpeace “Sunrise Arctic” melaju, menggugah kesadaran manusia akan datangnya malapetaka alam.