Siapa yang tak mengenal perusahaan raksasa elektronik asal Jepang ini, Sony. Saat ini Sony memang berdarah-darah di berbagai sektor bisnis yang digelutinya. Bisnis televisi mereka kalah dari Samsung dan LG. Di bisnis telepon genggam, mereka tak mampu bicara banyak melawan Samsung dan Apple. Tak pelak perusahaan asal Negara Sakura dikabarkan merugi hingga  520 miliar yen (sekitar Rp 58,72 triliun), lebih dari lima kali prediksi kerugian 90 miliar yen pada bulan November lalu memaksa perusahaan ini  akan merumahkan 15 persen dari tenaga kerjanya akibat unit telepon selularnya yang tengah krisis. 

Berbagai cara telah dilakukan Sony untuk memangkas biaya produksinya. Seperti memindahkan kantor pusatnya dari Swedia ke Tokyo. Keputusan untuk merumahkan seribu tenaga kerja Sony Mobile Communications ini muncul enam bulan sejak Sony membeli penuh kepemilikan perusahaan telekomunikasi Swedia Ericsson, yang sebelumnya berbentuk kerja sama kongsi (joint venture) pada 2001. Kerja sama joint venture tersebut telah berjuang di tengah persaingan ketat pasar ponsel pintar, berhadapan dengan lawan tangguh seperti Apple dan perusahaan asal Korea Selatan Samsung electronics. Kerja sama joint venture tersebut telah berjuang mati-matian di tengah persaingan ketat pasar ponsel pintar, berhadapan dengan lawan tangguh seperti Apple dan perusahaan asal Korea Selatan Samsung electronics. Namun akhirnya Sony pun “menyerah” dengan persaingan panas ini.

Pada Kamis, Sony mengungkapkan perumahan tenaga kerja di Swedia diharapkan akan selesai pada 2014. Mereka pun mengklaim hal tersebut sebagai bagian dari usaha untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional, mengurangi biaya, dan mengendalikan pertumbuhan keuntungan. “Dengan lebih fokus dan mengandalkan struktur operasioanl yang lebih efisien, akan membantu mengurangi biaya Sony Mobile dan kami berharap akan mampu membawa kami kembali mendapatkan kekuatan bisnis,” Kepala Sony Mobile Kunisama Suzuki, seperti dikutip dari Antara.

Sebelumnya Sony juga mengumumkan akan merumahkan 10 ribu pekerja mereka di seluruh dunia dan menghabiskan hampir satu milyar dolar AS untuk perombakan struktur. Sony memang mengalami penurunan pendapatan besar-besaran pada kwartal terakhir dan diramalkan akan kembali mengalami penurunan keuntungan.