Brazilia berupaya mempelopori produksi biopolymers, sebuah industri yang menggunakan emisi-emisi gas rumah kaca lebih sedikit daripada pabrik plastik yang didasarkan pada bahan bakar fosil. Tetapi “plastik hijau” ini terbuat dari  tebu yang memiliki sisa rasa asam.

Lompatan ke arah produksi green polyethylene berskala industrial dilakukan oleh sebuah pabrik yang didirikan dua tahun yang lalu, di Polo Petroquimico do Sul (di pusat Petrokemikal bagian Selatan), yang berlokasi di kota madya Triunfo di negara bagian selatan Rio Grande do Sul, dengan kapasitas keluaran per tahun 200.000 ton.

Plastik hujau ini adalah damar thermoplastic yang terbuat dari ethanol tebu yang berlimpah di  negara itu, dan diproduksi dengan teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan Brazilia,  bernama Braskem, salah satu dari produsen petrokemikal paling besar di dunia.

Braskem yang produksi utamanya masih didasarkan pada minyak- mengklaim bahwa polyethylene hijau memiliki properti-properti yang segolongan dengan petrokemikalnya, namun yang menjadi perbedaan di antara keduanya adalah dampak bagi lingkungan hidup mereka. “Dalam produksi plastik hijau per ton dapat menyimpan karbondioksida 2,5 ton.”

Material ini juga memiliki keanekaragaman aplikasi dalam jajaran industri, termasuk hygene dan kebersihan, pangan, kosmetik dan permobilan. Memang cukup menggiurkan. Ini juga merupakan hasil dari riset dan pengembangan yang intensif. Bahan baku yang seratus persen terbarukan ini terbuat dari tebu yang berlimpahan. Braskem juga meyakinkan bahwa dengan produksi polyethylene dan produk-produk yang berkelanjutan (sustainabile) lainnya dalam jajaran yang sama, dapat memberikan kontribusi untuk mengurangi karbondioksida lebih dari 750.000 ton per tahun, atau setara dengan penanaman lebih dari 5 juta pohon per tahun. Langkah selanjutnya dari perusahaan ini adalah membangun pabrik polypropylene hijau yang pertama dan meluncurkan produksinya pada tahun 2013.

Polypropylene hijau -yang dalam versi petrokemikalnya adalah damar thermoplastic kedua yang terbesar digunakan di dunia- juga akan dibuat dari ethanol, dan memiliki banyak keuntungan bagi lingkungan hidup sebagaimana polyethylene. Volume plastik hijau yang diproduksi bersifat marjinal dibandingkan damar-damar konvensional. Jadi bagi Braskem memang sangat penting, karena “tujuannya adalah menjadi pemimpin global dalam produksi kemikal yang berkelanjutan pada tahun 2020.” Nah, marilah kita tunggu, apakah perkembangan industri-industri dengan teknologi inovatif mampu membuat keseimbangan ekologis, dan tidak hanya menggerogoti Bumi Ibu kita, demi kepentingan profit yang berlandaskan kapitalisme yang serakah (greed capitalism).