Cathy Hutchinson, 59 tahun, telah menderita penyakit stroke selama lebih dari lima belas tahun. Stroke itu telah melumpuhkan lengan dan kakinya. Sekalipun otaknya tetap berfungsi  secara normal, namun ia tidak dapat lagi berbicara secara lancar. Suatu saat Hutchinson memecahkan berita internasional, ketika para periset melaporkan bahwa ia dapat minum secangkir kopi dengan menggunakan lengan robotik, karena ia dapat mengendalikannya dengan otaknya.

Hutchinson memang telah siap-sedia untuk ambil bagian dalam uji-coba klinik untuk menentukan apakah ia dapat menggunakan pikirannya untuk menimbulkan gerakan. Sebagai bagian dari uji-coba itu, sebuah alat yang mungil ditanamkan di dalam otaknya di bagian motor cortex. Alat ini kira-kira sebesar butir pil, yang dinamakan BrainGate (gerbang-otak). Gerbang-otak terselaputi dengan elektrode-elektrode yang dapat mencatat aktivitas dalam motor cortex. Motor cortex adalah bagian dari otak yang mengendalikan ketrampilan-ketrampilan motor secara sukarela.

Dengan membaca elektrode-elektrode itu, komputer mempelajari bagaimana menerjemahkan pikiran-pikiran Hutchinson ke dalam gerakan. Sekali komputer dapat mengasosiasikan pikiran-pikiran Hutchinson dengan gerakan tertentu, maka memungkinkan ia mengendalikan lengan-lengan robotik, hanya dengan menggunakan pikiran-pikirannya. Sekalipun Hutchinson telah menderita kelumpuhan selama lebih dari lima belas tahun, namun otaknya masih mentransmisikan signal-signal yang berhubungan dengan gerakan dalam tangan dan lengannya.

Dengan cara membayangkan lengannya memegang secangkir kopi, kemudian menujukan ke mulutnya, maka lengan robotik akan melakukan tindakan yang sama dengan apa yang divisualisasikannya. Dalam uji coba itu, ia berhasil mengendalikan lengan robotik antara empat sampai enam kali dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Dengan meneteskan air mata keharuan bercampur kebanggaan ia terpatah-patah menyatakan: “Now, I have an incredible sense of independence.”