Tak mau ketinggalan, alfabet sentuh-tangan pada abad sembilan belas akan segera membuka jalan untuk berada di barisan depan teknologi. Menurut sumber tertentu, Laboratori Riset Desain Jerman  sedang mengembangkan sarung tangan yang mampu mengirimkan teks bagi para tunarungu dan tunanetra.

Dengan prototype yang sudah ada sekarang, sarung tangan itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan komunitas. Yang pasti, ini dapat memberikan langkah kritis dalam menghadapi tantangan-tantangan  komunikasi yang sudah ada bagi para penyandang tunarungu dan tunanetra.

Mikulove Heinrich Landesman, penemu  sarung tangan itu beroperasi di bawah naungan Hieronymus Lorm, sebuah laboratori dari University of Arts Berlin. Setelah ia meninggal dunia pada tahun 1908, pengembangannya diteruskan menjadi sebuah prototipe sarung tangan yang mampu mentransmisikan bahasa ke dalam teks. Dalam beberapa langkah yang sederhana bisa dimungkinkan terjadinya komunikasi.

Dengan memakai sarung tangan Lorm dan sebuah alat bluetooth setengah panjang lengan, seorang pembicara dapat memulai proses. Kemudian dengan menggunakan pola-pola yang berbeda, serangkaian tanda-baca juga dapat ditransmisikan di samping surat-surat. Alat bluetoofh kemudian mentransmisikan teks kepada phone cell pembicara. Dan phone cell mengirimkan teks pesan-pesan (SMS) kepada phone cell pendengar. Ketika pesan mencapai pendengar, maka dapat ditransmisikan melalui sarung tangan lorm yang dipakai oleh pendengar. Denyut-denyut yang bergetar di bagian belakang unit memberitahu pendengar pesan.

Secara menyeluruh rincian dalam pengoperasian alat komunikasi ini memang tidaklah rumit. Dan “jendela” para pengguna dalam komunitas tunarungu dan tunanetra akan lebih terbuka dalam menyimak fenomena peristiwa yang bisa dikomunikasikan.