Diawali sebagai unit bisnis energi dari PT Len Industri, kini berubah menjadi PT Energi Surya Indotama (SEI), namun tetap dalam naungan PT Len Industri. Sejak tahun 2009 SEI memulai bisnisnya sebagai Engineering Procurement Contractor (EPC). 

Pagi itu tidak seperti biasanya, jajaran direksi dan perwakilan tim engineer SEI berkumpul di sebuah ruangan untuk menunggu kedatangan Teknopreneur guna melakukan wawancara. Dibuka dengan penjelasan oleh Presiden Direktur SEI Dewayana Agung Nugroho mengenai sejarah singkat SEI. Dia menjelaskan bahwa SEI adalah anak perusahaan PT Len Industri yang bergerak sebagai kontraktor sistem energi surya. 

“SEI itu merupakan anak perusahaan dari PT Len Industri. Len ini fokus pada fabrikan solar modul jadi kalau dari sisi kami (SEI-red) sebagai EPC (engineering procurement contractor), intinya kami ini adalah kontraktornya. Jadi bilamana ada tender atau pengadaan energi surya, kita masuk tapi kita memakai modul buatan PT Len Industri.”, tutur Dewa sapaan akrabnya.

SEI sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan sistem energi matahari, saat ini solusi sistem yang ditawarkan meliputi solar home system, hybrid system (PV-Wind turbine-diesel), stand alone system, solar lighting system, grid connected PV system, solar powered BTS, PV system for bank (office and ATM), solar satellite phone, PV system for communication, PV system for lighthouse, solar water pump system, PV testing system, energy limiter, dan PV battery charging system.

Walaupun SEI masih seumur jagung, namun sepak terjangnya pantas diacungi jempol. Dengan mengantongi visi ingi membangun sistem tenaga surya di mana semua orang berada dapat memperoleh keuntungan dari tenaga matahari, SEI telah membuktikan dengan pengalamannya memasang 47 menara suar di pulau terluar yang mana pulau-pulau tersebur merupakan garis batas NKRI. 

Sementara itu market yang dituju, kata Dewa, masih terlibat dalam proyek pemerintah. Mengingat biaya yang dibutuhkan besar jadi memerlukan biaya anggaran dari APBN atau APBD. Seperti yang sekarang dilakukan bekerjasama dengan PLN. Kemudian, pemasaran untuk non pemerintah seperti pihak swasta dengan melalui program CSR milik perusahaan swasta tersebut. Selain itu juga SEI bersinergi dengan BUMN seperti Antham yang di mana di daerah proyeknya tersebut belum dialiri listrik. Di sisi lain, selain melakukan aktivitas pemasaran, SEI juga mempunyai misi kampanye untuk menggunakan energi terbarukan, salah satunya surya.

Ketika disinggung masalah teknologi, menurut Dewa, saat ini teknologi berkembang terus. Ada banyak seperti kristalin, polikristalin, monokristalin, dan thin film. Akan tetapi jika merujuk pada hasil kajian, BPPT sudah memberikan saran untuk menggunakan polikristalin. Semua teknologi mempunyai kelebihan dan kekurangan, seperti polikristalin mempunyai kelebihan di efesinsi tinggi. Dengan teknologi selektif emitter, dengan pencapaian efisiensi mencapai 17%, sedangkan thin film itu 9-10%. Mungkin sekarang, rata-rata pencapaian efisiensi thin film berkisar 6-7%. Dan juga biaya dan lahan thin film ini bisa lebih mahal. 

“Thin film itu membutuhkan luasan lahan yang lebih besar dibandingkan dengan polikristalin, tapi dia mempunyai kemampuan untuk menyerap energi yang lebih besar pula. Intinya adalah dari sinar matahari yang didapatkan di Indonesia lebih baik daripada diluar negeri. Jadi dari sisi kami polikristalin merupakan teknologi yang cocok untuk Indonesia. Sementara itu, pasar untuk polikristalink 20 tahun mendatang akan lebih banyak. Dan tentunya kami sesuaikan dengan permintaan PLN di mana pemasangan ini di pulau-pulau terpencil, jadi yang jauh-jauh”, lanjut Dewa.

Ketika disinggung revenue, giliran Asep Supardi Direktur Keuangan SEI menjelaskan pendapatan yang diterima dari tahun 2008 hingga 2009 menunjukan peningkatan, namun di tahun 2010 terjadi penurunan dikarenakan kondisi pemerintah yang saat itu belum bisa membelanjakan anggarannya. “Kemudian di tahun 2011 terjadi kenaikan grafik pendapatan sampai mencapai perolehan total kontrak sekitar 180 Milyar”, tutupnya.