Berdasarkan laporan dari Nationalgeographic, pemerintah Jepang mengaktifkan kembali reaktor nuklir. Ini adalah pertama kalinya sejak negara itu mematikan instalasi tenaga nuklir selama dua bulan setelah bencana di Fukushima. Kebangkitan kembali reaktor No. 3 di pabrik nuklir Ohi adalah permintaan dari Perdana Menteri Yoshihiko Noda. Kebijakan ini telah mengundang protes dari publik.

Tapi tidak ada jawaban yang mudah bagi Jepang. Bangsa ini tidak memiliki bahan bakar fosil yang dikenal cadangan sendiri, dan mulai bergantung pada tenaga nuklir sebagai sumber daya rumah-tumbuh setelah guncangan minyak global 1970-an. Pondasi bangsa dalam keselamatan armada nuklirnya hancur ketika Maret 11, 2011, gempa bumi dan tsunami memicu krisis di Fukushima. Sejak itu, Jepang telah merampingkan bahan bakar fosil impor, agresif mempromosikan energi terbarukan dan konservasi, dan mencoba untuk merencanakan masa depan energi baru.

Sekitar 100 dari 650 pendemo di pembangkit nuklir memblokir sebuah jalan dalam semalam, tetapi juru bicara Kepco mengatakan pengaktifan kembali tidak terganggu. Pengaktifan kembali dilakukan menyusul sebuah perintah dari PM Noda bulan lalu yang mengotorisasi pengaktifan kembali reaktor Ohi setelah menjalani uji tekanan. Setelah reaktor No 3, selanjutnya reaktor No 4 juga akan diaktifkan kembali pada tanggal 14 Juli. PM Noda memutuskan untuk mengaktifkan lagi reaktor nuklirnya karena dianggap penting bagi ekonomi dan mencegah kekurangan listrik di musim panas. Keputusan ini disambut para pengusaha yang menyuarakan kekhawatiran atas kekurangan listrik bagi Industri. Tetapi ribuan massa juga mengecam kebijakan ini dengan menggelar aksi demo anti nuklir di luar kediaman resmi Perdana Menteri Yoshihiko Noda di Tokyo, massa meneriakkan “Saikado hantai,” atau “Tidak untuk pengaktifan kembali nuklir”. Wartawan BBC di Tokyo melaporkan bahwa aksi demo ini merupakan salah satu yang terbesar sejak reaktor Fukushima rusak parah Maret 2011. 

Operator pabrik, Kansai Electric Power, telah mempersiapkan reaktor tersebut untuk bisa beroperasi kembali pada Minggu. Sebanyak 50 reaktor nuklir fungsional di Jepang dimatikan satu demi satu untuk pengecekan keamanan setelah bencana pada pabrik Fukushima Daiichi. Reaktor nuklir tersebut telah membuat sebagian besar kawasan utara Jepang terkena radiasi. Reaktor terakhir ditutup pada awal Mei, di tengah kekhawatiran publik atas keselamatan instalasi nuklir jika terjadi gempa besar dan tsunami di Jepang seperti yang terjadi pada Maret 2011.

Noda mengatakan pembangkitan kembali reaktor nuklir diperlukan untuk menghindari kekurangan tenaga listrik yang bisa melumpuhkan kawasan Kansai. Bagaimana pun keputusannya telah menarik oposisi publik yang sangat vokal. Kebanyakan orang Jepang mengatakan Noda telah mengabaikan keselamatan untuk melindungi industri nuklir.

Selama akhir pekan sekitar 200 orang pengunjuk rasa memblokade jalan ke pabrik Ohi. Kansai Electric mengatakan telah mengerahkan staf yang cukup untuk memulai kembali mengaktifkan reaktor. Namun wakil menteri senior dari kementerian yang membawahkan tenaga nuklir harus diangkut ke pabrik dengan menggunakan perahu. “Saya melihat ini dengan perasaan tegang,” kata pejabat dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Seishu Makino seperti dikutip The New York Times, Senin, 2 Juli 2012.

 

“Pemerintah telah mengambil langkah penting ke depan meskipun ada kontroversi,” kata dia.

Sementara itu, pada Minggu, sekitar seribu orang berunjuk rasa di Tokyo. Dua hari sebelumnya, puluhan ribu demonstran meneriakkan slogan antinuklir di depan rumah perdana menteri. Meski banyak menuai protes, Kansai Electric mengatakan telah menarik batang roda pada inti reaktor pada Minggu malam, sehingga bisa melanjutkan fisi nuklir. Operator berharap akan mendapatkan reaksi nuklir berkelanjutan pada Senin pagi dan transmisi listrik pertama pada rabu mendatang.