Energi terbarukan kini menjadi primadona untuk mendukung terciptanya kehidupan yang ramah lingkungan sebagai dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global. Berbagai macam terobosan dikembangkan. Salah satunya energi osmosis, yang dapat menghasilkan pembangkit listrik dengan cara memanfaatkan pertemuan air tawar dan air laut untuk menghasilkan listrik bersih. Seperti yang dikatakan oleh Bard Mikkelsen, pemimpin Statkraft, kelompok perusahaan energi milik pemerintah Norwegia “garam saja mungkin tak dapat menyelamatkan dunia, kami yakin tenaga osmosis ini akan menjadi bagian penting sumber energi terbarukan global di masa depan.”

 

“Ketika air tawar dari sungai mengalir ke laut dan bercampur dengan air asin, ada energi yang dilepaskan, dan Statkraft telah mengembangkan teknologi dan sistem untuk menangkap energi itu, ujarnya.” Pemanfaatan energi osmosis ini dilandaskan pada fenomena alam osmosis, yang memungkinkan pohon mengisap air dari daun. Prinsip itu kemudian diterapkan pada pembangkit listrik baru ini dengan menyalurkan air tawar dan air laut yang memiliki kandungan garam tinggi ke bilik yang dipisahkan oleh sebuah membran buatan. Membran tipis itu dapat dilewati air, tapi tak dapat ditembus garam.

 

Molekul garam dalam air laut menarik air tawar menembus membran, menyebabkan tekanan pada bilik air laut meningkat. Hal itu terjadi karena air mengalir dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih tinggi. Tekanan setara dengan tangki air setinggi 120 meter atau sama dengan sebuah air terjun itulah yang digunakan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Pembangkit listrik tenaga osmios adalah yang pertama di dunia. Sumber energi baru ini menghasilkan listrik yang stabil tanpa terpengaruh kondisi cuaca. “Ini adalah bentuk energi terbarukan yang menghasilkan energi stabil yang dapat diandalkan”, kata Stein Erik Skilhagen, penanggung jawab proyek tersebut di Statkraft. Kini hampir semua negara yang berbatasan dengan laut dapat memanfaatkan energi osmosis ini, karena yang diperlukan hanyalah pertemuan air tawar dan air laut. Asalkan ada sungai yang mengalir ke laut, pembangkit energi osmosis bisa didirikan. Potensi energi osmosis di seluruh dunia diperkirakan mencapai 1.700 terawatt hour (TWh) per tahun, setara dengan separuh produksi energi Uni Eropa atau sama dengan konsumsi listrik Cina pada 2002.

 

Pada saat ini, prototipe pembangkit tersebut hanya dapat memproduksi 2.000-4.000 watt jam per hari atau cukup untuk menyalakan satu kompor saja. Untuk memperbaiki teknologi membran tersebut, Statkraft bekerja sama dengan lembaga riset dan industri di Norwegia, Jerman, dan Belanda. Pada saat ini, membran yang paling efisien hanya mampu menghasilkan 3 watt per meter persegi sehingga belum memenuhi standar komersial, yakni 5 watt per meter persegi. Statkraft berharap dapat mulai membangun pembangkit listrik tenaga osmosis komersial pertamanya pada 2015. Rencananya, pembangkit listrik itu memiliki kapasitas hingga 25 megawatt, cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik 10 ribu rumah.