Besarnya peluang energi terbarukan salah satunya energi angin, menjadikan celah bisnis bagi A Wing International untuk mengembangkan potensi dalam sektor ini.

“Indonesia telah diberikan anugerah yang luar biasa dengan alamnya, banyak orang yang mengatakan Indonesia, gemah ripah loh jinawi dan Indonesia diberikan luas pantai terpanjang nomor dua di dunia. Cuma sayangnya, pemanfaatan energi angin masih sedikit, sekitar 1,4 Mw saja yang baru di manfaatkan”, tutur Ananda Setiyo Ivannanto, Kepala Perwakilan untuk Indonesia, A Wing International.

Hal tersebut menjadikan peluang bisnis bagi A Wing International untuk menjajaki pemanfaatan energi angin di Indonesia, mengingat potensi energi angin di Indonesia sekitar 9,29 Gw. A Wing International merupakan perusahaan manufaktur turbin energi angin dari Jepang. Perusahaan ini sudah masuk di Indonesia sejak bulan Mei tahun 2010. Selain di Indonesia, perusahaan asal Jepang ini juga membuka cabangnya di beberapa negara seperti Thailand, Korea Selatan, dan Mongolia. Mereka memproduksi turbin angin mulai dari skala kecil hingga besar. Menurut Ivan sapaan akrab lelaki lulusan salah satu universitas di Jepang ini, perusahaan yang digawanginya menghasilkan turbin yang dimulai dari skala kecil hingga besar. 

 “Perusahaan kami mulai dari ritel yang kecil-kecil sampai skala yang megawatt maupun gigawat kami bisa. Untuk skala ritel, seperti yang kami lakukan dengan mencoba menjual pembangkit listrik tenaga angin ke daerah yang mana anginnya bagus dan tidak mempunyai akses listrik dan kami pun kini sedang dalam proses untuk menjadi penyuplai energi listrik ke PLN”, katanya.

Untuk memperlebar sayap pemasarannya, perusahaan ini bekerjasama dengan dealer-dealer di seluruh Indonesia. Walaupun di sisi lain mereka juga mempunyai akses langsung kepada konsumen namun akhirnya masalah pemasaran akan bermuara di dealer. Ketika ditanya tentang peluang dan potensi bisnis untuk energi angin ini, menurut Ivan peluang untuk berbisnis dalam sektor ini sangat besar. 

Berbicara modal pada bisnis ini, kata dia, untuk skala yang kecil rata-rata per kW kurang lebih sekitar US$2-3/W. Jadi idealnya investasi keseluruhan yang harus dikeluarkan untuk turbin angin sekitar US$2500 dengan kapasitas 500 Watt dan minimal lahan yang diperlukan 2 m2. Kemudian Ivan pun memberikan gambaran tentang total cost yang dikeluarkan. Dia mengasumsikan dengan 15 rumah yang jaraknya berdekatan, dibutuhkan dana sekitar Rp. 450 juta untuk 40 kW dengan membayangkan penggunaan satu rumah sekitar 600 sampai 1000 watt hour per hari dan itu masih dengan asumsi menggunakan produk dari luar.

Selain itu pula, A wing International tengah mengupayakan agar cost lebih rendah dengan cara mengurangi kadar permanen magnet yang ada pada generator turbin angin.  “Pembuatan turbin angin ini menggunakan rare earth metal yang mana material ini sumbernya sangat terbatas. Makanya kami sedang berupaya untuk mengurangi pemakaian material rare earth metal sehingga pada akhirnya cost dapat dimurahkan. Mungkin bila itu berhasil diimplementasikan cost yang dikeluarkan menjadi US$1-1,5/W”, ungkapnya.  

Cut In Wind Speed Pada Kecepatan Angin di Atas 1,5m/sec 

Rata-rata teknologi turbin angin yang dihasilkan di industri saat ini, baru pada kecepatan angin 2,5 m/sec ke atas, dan kemudian pembangkit sudah bisa menghasilkan energi listrik atau istilah itu biasa disebut dengan cut in wind speed. Berbeda dengan perusahaan asal Jepang ini, A Wing International sudah mengembangkan teknologi terbarunya dengan menghasilkan listrik bila kecepatan angin yang dihasilkan di atas 1,5 m/sec dengan teknologi inner rotor coreless permanent magnet generator.  

Teknologi yang dihasilkan dengan kecepatan angin 1,5 m/sec atau untuk kebutuhan listrik satu rumah yang sangat sederhana, menurut Ivan, mampu menghasilkan 760 watt hour setara dengan pemakaian tiga titik lampu, charging tiga hand phone, dan pemakaian setrika sampai dengan 1 jam. 

“Kami sudah melakukan uji coba itu di daerah Tasikmalaya, tepatnya daerah Ciheras bekerjasama dengan Nidec, NEDO dan sebuah organisasi mahasiswa bernama Lentera Angin Nusantara. Dari turbin angin yang kami punya ini, kita pasang di dekat area itu, kira-kira bisa menghasilkan 760 watt hour tiap hari. Jadi itu menunjukan bahwa suplai energi yang dapat dihasilkan oleh pembangkit ini cukup untuk satu rumah yang sederhana untuk pemakaian yang tidak terlalu besar.”, jelasnya. 

Mengenai perkembangan teknologi energi di sektor ini, Ivan pun menjelaskan bahwa tren yang sedang berkembang akhir-akhir ini adalah dengan pemakaian bahan baling-baling dengan kayu ataupun carbon fiber.