Dalam pembukaan Indonesia EBTKE CONEX 2012 Conference & Exhibition di Jakarta International Convention Centre (JICC), Selasa (17/7), Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan: “Sudah saatnya kita menggali potensi Energi Baru Terbarukan contohnya geothermal tenaga panas bumi. Menurut penelitian, di dalam tanah memiiki 40% energi panas bumi (magma). Dan energi yang keluar dari panas bumi harganya hanya 8 sen sampai 10 sen dolar per KWH, sedangkan listrik yang dihasilkan dari BBM harganya 35-40 sen dolar per KWH. Kemudian energi matahari juga belum dimanfaatkan secara maksimal sementara Indonesia memperoleh sinar matahari yang sangat bagus. Selain itu juga biomassa, yaitu tenaga listrik yang menggunakan sampah, cangkang kelapa sawit, ampas tebu, ampas jagung, dan kotoran sapi yang selama ini banyak sekali dan tidak kita pedulikan. Dan juga air sungai yang deras, maupun air di danau-danau belum kita manfaatkan menjadi pembangkit listrik. Menurut Kebijakan Energi Nasional 2011-2012 Energi Baru Terbarukan mencapai 5%-6%. Dalam menuju tahun 2025 ditargetkan menjadi 26%. Pada tahun 2050 ditargetkan lagi menjadi 35%. Harga beli listriknya akan saya naikkan tapi tidak tinggi setinggi tarif listrik yang menggunakan BBM dan sekarang baru menginjak harga 8 sen dolar per KWH dan 9 sen dolar per KWH. Dan dari energi sampah mencapai 12 sen dolar per KWH, 14 sen dolar per KWH.  Di Thailand ada pembangkit listrik tenaga matahari yang jumlahnya mencapai 75 megawatt di atas lahan 150 hektar. Di sana untuk sepuluh tahun pertama tarif listriknya mencapai 23 sen dolar per KWH, setelah itu menurun menjadi 3-5 sen dolar per KWH, jadi murah sekali. Sementara Thailand saja yang berada di Selatan khatulistiwa bisa menggunakan tenaga matahari, apalagi kita yang berada di garis khatulistiwa. Karena itu, saya mengajak masyarakat dan para industriawan untuk terjun ke dalam Energi Baru Terbarukan. Kita harus mendorong pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dan konservasi energi, dalam rangka penghematan energi melalui regulasi dan insentif untuk mengembangkan Energi Baru Terbarukan.”

Menipisnya cadangan energi fosil dan kenyataan yang harus kita terima bahwa pemakaian energi fosil telah menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Indonesia memiliki potensi dan cadangan Energi Terbarukan yang besar seperti tenaga matahari, panas bumi dan air, termasuk lautan. Sumber-sumber tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik. Di samping itu Indonesia juga berpotensi menjadi salah satu produsen Energi Nabati (Bioenergy) terbesar di dunia berkat tersedianya lahan yang cukup luas dan jenis-jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak nabati. Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia akan mampu menghasilkan biodiesel dan bio-etanol, yang dapat menggantikan atau mengurangi ketergantungan dari Bahan Bakar Minyak di masa datang.