Menurut laporan World Nuclear Industry, produksi  reaktor nuklir dunia mengalami penurunan sebesar 4,3%. Penurunan tenaga nuklir ini disebabkan oleh krisis keuangan global serta gempa bumi yang melanda Jepang Maret tahun lalu. Bencana tersebut memang telah memicu efek beruntun berupa bocornya reaktor nuklir Fukushima Daichi. Hal ini membuat fasilitas tersebut harus ditutup serta ditundanya pembangunan beberapa reaktor baru.

Pada tahun 2011, produksi nuklir global mencapai 2630 terawatt. Sementara tahun ini, produksinya hanya mencapai 2518 terawatt. Sampai saat ini, tenaga nuklir menyumbang 11% dari seluruh pembangkit listrik global.

Kehancuran Fukushima Dai-Ichi yang dikelola oleh Tokyo Electric Power Co pada Maret tahun lalu juga memicu negara-negara seperti Jerman, Swiss dan Taiwan untuk meninjau ulang tenaga nuklir. Memburuknya sentimen global terhadap keamanan rektor nuklir membuat energi ini kurang diminati lagi.

“Situasi ini jauh lebih buruk bagi industri daripada setelah Chernobyl,” ujar Mycle Schneider, co-penulis laporan tersebut.

Sementara itu, keinginan dari Mesir, Italia dan Kuwait untuk membangun reaktor pertama mereka juga telah ditangguhkan. Bahkan negara-negara seperti Uni Emirat Arab yang ingin menggunakan tenaga nuklir untuk memenuhi 1/3 kebutuhan listriknya pada tahun 2020, tidak bisa mendapatkan pembiayaan yang mereka butuhkan.