Guna mengaktifkan bisnis untuk memanfaatkan volume data besar efektif menjadi terarah secara analytics, SAS dan EMC Greenplum melakukan kerjasama. Kerja bareng itu diumumkan di Interconinental Hotel, Jakarta, kemarin. SAS business analytics membantu membuat keputusan lebih cepat dan baik melalui peningkatan kemampuan analisis untuk jumlah data yang sangat besar dan terus bertambah. EMC Greenplum datawarehouse dan appliances membantu organisasi global untuk menyimpan, mengatur dan melindungi data mereka dengan cara yang responsif.

“Kami menyadari jika telah banyak organisasi yang menyadari tentang big data. Saat ini mereka sedang mempersiapkan strategi untuk menganalisa data dan menemukan wawasan yang dapat membantu mereka berkompetisi dan berhasil,” kata Erwin Sukiato, Country Manager SAS Indonesia, dalam siaran pers.

Bank, perusahaan asuransi dan pembiayaan dapat mengimplementasikan aktivitas marketing terbaik untuk mengoptimalkan daftar target calon nasabah, cross-sell, loyalty dan risiko pembayaran, SAS Customer Intelligence membantu organisasi untuk menemukan kesempatan pertumbuhan yang paling menguntungkan. Selain itu, peritel dapat mengoptimalkan inventori dan harga ratusan barang, perusahaan farmasi dapat melakukan inovasi berkaitan dengan produknya, atau perusahaan manufaktur dapat meningkatkan kontrol terhadap kualitas dan stok untuk memaksimalkan pendapatan penjualan, SAS Supply Chain Intelligence membantu organisasi untuk mengintegrasikan sistem Supply Chain yang telah ada dan menemukan wawasan tersembunyi untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Menurut lebih dari 1,000 CIO dan jajaran eksekutif yang telah diinterview sebagai bagian dari survei IDC Asia/Pacific C-Suite Barometer pada Februari 2011, business analytics menduduki posisi area teknologi nomor  1 yang akan menjadikan organisasi mereka memperoroleh nilai kompetitif di tahun mendatang.

Menurut Erwin, melalui analisis bisnis, organisasi dapat membuat keputusan yang lebih baik dan cepat, tidak hanya yang berdasarkan apa yang telah terjadi melainkan apa yang akan terjadi kemudian. 

“Mereka juga dapat memprediksi hasil terbaik dan tetap dapat menunjukkan kecepatan meski berada dalam perubahan yang cepat”, ujar Erwin.

Organisasi di Indonesia, kata Erwin, saat ini menghadapi transisi menuju strategi bisnis yang berfokus pada pelanggan, karena dapat memberikan lebih banyak kesempatan daripada sebelumnya, dan bertujuan menghasilkan pertumbuhan yang menguntungkan. Untuk menghasilkan transisi yang tepat, perusahaan memerlukan customer intelligence yang tepat dengan pendekatan holistik untuk menjawab tantangan kritis lintas marketing.

Dalam mengatasi Big Data, SAS juga menawarkan solusi SAS Supply Chain Intelligence untuk memberikan manfaat penting bagi organisasi dengan membantu mereka mengubah data menjadi informasi dan mengembangkan wawasan unik tentang pola permintaan barang, jaringan penyediaan barang, operasional dan persyaratan customer service. SAS dapat melengkapi dan memanfaatkan investasi ERP yang telah dijalankan organisasi dengan interface yang mendukung berbagai jenis sistem yang saat ini banyak dipergunakan. 

Dalam forecasting arah permintaan (demand-driven forecasting), organisasi dapat menganalisa dan mengkombinasikan berbagai model untuk menghasilkan forecast yang terbaik menggambarkan organisasi pada setiap tingkat perusahaan dan hierarki produk. Untuk optimisasi inventori, organisasi dapat mengoptimalkan stok pada tingkat keamanan tertentu, mengurangi stok yang berulang, meminimalkan order dan inventori, mencapai tingkat customer service yang ditargetkan dan meningkatkan cash flow karena memiliki produk yang tepat pada lokasi yang tepat.