Meskipun masyarakat Indonesia baru bisa menonton sekuel Transformers: Dark of the Moon akhir bulan Juli, tidak ada salahnya kita melihat peciptaan karakter dan animasi di film yang disutradarai Michael Bay ini.

Tim visual efek film ini dipimpin oleh peraih Oscar untuk visual efek Scott Farrar. Sebenarnya Farrar juga berpartisipasi pada pembuaatan visual efek dua film Transformers sebelumnya. Film ketiga ini mulai dibuat pada awal 2010 lalu dan dengan persiapan yang lebih matang.

Bay dan Farrar paham betul film kedua mereka kurang sukses karena jalan cerita yang kurang menarik dan karena adanya pemogokan para penulis naskah pada 2007-2008.

Bay ingin film ketiga ini memiliki alur cerita yang labih baik, jadi dia memulai proses lebih cepat dan berdiskusi dengan penulis skenario Ehren Kruger. Hasil naskahnya tidak mengecewakan Bay, digadang-gadang ceritanya akan semenarik cerita pertama.

Tentu saja salah satu kunci utama hiburannya ada di aksi para robot hasil efek visual tiga dimensi. Tetapi menurut Farrar, Bay tidak terlalu senang membuat filmnya dalam format tiga dimensi. Namun ada scene dimana penonton dibawa masuk ke dalam mata Bumblebee dan melihat banyak hal di dalamnya. Scene ini memerlukan teknologi tiga dimensi. Maka Bay pun akhirnya setuju menghadirkan suasana luar angkasa dengan tiga dimensi.

Banyak sekuen penting di film ini yang diambil dengan kamera PACE 3D, kamera yang ditemykan oleh Vince Pace dan digunakan James Cameron di Avatar. Untuk scene yang memerlukan kualitas gambar yang lebih tinggi atau dalam mode slow motion, Farrar menggunakan film 35 mm lalu dikonversikan ke tiga dimensi.

Menurut rumor yang beredar, Paramount mengeluarkan uang $ 30 juta lebih banyak dari buget awalnya yang hanya $165 juta, untuk sekuen tiga dimensi yang berkualitas tinggi.
Untuk mengambil struktur kota Chicago, Farrar tidak mengambil gambarnya dengan komputer grafis tetapi dengan memfoto pemandangan bangunan pencakar langit lalu mereplikasinya. Menurut Farrar ini perkerjaan yang lebih sulit namun hasilnya lebih bagus.

Dari 580 scene yang dikerjakan Farrar, ada scene dimana ada kejar-kejaran antarrobot di jalan raya yang menggunakan efek tiga dimensi. Untuk mengerjakan ini, Farrar membutuhkan 300 orang lebih dalam timnya yang bekerja di California Utara. Termasuk tambahan anggota tim dari Singapura yang harus bekerja 160 scene per proyeknya.

Farrar berusaha membuat scene yang bisa memaksimalkan fungsi tiga dimensinya. Maka mereka membuat adegan dimana ada misil yang ditembakkan ke arah kamera. Namun itu ternyata bukan tugas mudah, karena teknologi ini rumit dan membutuhkan banyak detail.

Farrar dan timnya menggunakan proprierary software untuk menciptakan sekuens menarik. Salah satunya adalah Zeno yang berbasis mesin simulasi dinamis yang disebut PhysBam yang dikembangkan di Universitas Stanford.  Mereka juga menggunakan Maya untuk animasi dan Nuke untuk komposisi hasil.

Dan jangan lupa komponen film seperti pencahayaan, bayangan, kilauan harus diperhatikan di film ini. mengingat semua robotnya ‘terbuat’ dari bahan metal.  Belum lagi saat harus me-render film, mereka kaget karena kapasitas penyimpanan mereka tidak cukup. Sebelumnya mereka mengira film ini hanya akan memakan kapasitas 120 terabyte, namun pada akhirnya membengkak hingga 150 terabyte.