Film pahlawan super Thor sudah masuk jajaran box office minggu ini. Satu hal yang menarik dari film ini tentu saja penggunaan lebih dari seribu shot efek visual untuk membuat tokoh komik Marvel ini hidup. Namun yang membedakan film ini berbeda dengan pahlawan superhero Marvel yang lain adalah perubahan genre dari action movie menjadi science fiction.

Perubahan ini merupakan keputusan sang sutradara, Kenneth Branagh, yang meminta tim visual efek yang diketuai Wesley Sewell untuk lebih berfokus pada sisi ‘fiction’ daripada sisi ‘science’. Wesley yang sudah berpengalaman menggarap visual efek untuk Iron Man, Kingdom of Heaven, Pirate of Caribbean: The Curse of the Black Pearl dan Gladiator, membuat Thor dengan Digital Domain, Buf, Luma Pictures, dan Whiskytree.

Pada mitologi Norwegia, ada sembilan alam yang menempati pohon kosmik yang disebut Yggdrasil. Namun, untuk kepentingan film, hanya tiga alam yang difokuskan: Asgard (tempat para dewa), Midgard (bumi), dan Jotunheim (tempat para raksaksa). Ceritanya pun agak sedikit berbeda dengan mitologi Norwegia. Thor dibuat lebih futuristik meskipun tetap harus ada unsur kuno di saat yang sama.

Karena melibatkan elemen seperti film, komik, klasik, sci-fi sekaligus futuristik, Thor memerlukan visual efek yang kratif untuk mewujudkan imajinasi tersebut dan menemukan keseimbangan dari semua elemen. Tim kreatif bahkan sempat mencoba menggabungkan geometri fraktal untuk mengelompokkan, mengatur dan merancang Asgard. Langkah ini diambil menyusul hasil diskusi tim yang beranggapan bahwa suatu kebudayaan yang begitu maju dan menguasai konsep pekerjaan dalam kehidupan akan menggunakan geometri fraktal.

Sementara itu pengerjaan Jotunheim yang merupakan rumah bagi para raksasa Jotun dibuat dengan serba mengkilap karena alam ini dilapisi es. Sedangkan kreasi para Jotun merupakan gabungan gerakan para aktor dan komputer grafis. Para aktor tersebut menggunakan 12 kostum dasar berbeda lalu nanti mengkombinasikannya sehingga akan menghasilkan puluhan jenis tokoh.

Sedangkan Midgard digambarkan seperti New Mexico, tempat dimana Thor dibuang. Di bagian ini, visual efek jarang digunakan untuk menggambarkan manusia seperti masa kini. Jadi harus terlihat nyata. Namun scene yang paling sulit dilakukan untuk penambahan VFX (visual efek) adalah saat peperangan antara Thor dan Destroyer. Thor memutar palunya dengan kecepatan tinggi, menghasilkan tornado yang bisa mengangkat mobil CG (computer graphic), puing-puing dan Destroyer ke udara.

Tim software programing Luma menciptakan alat untuk membantu tim VXF untuk memvisualisasikan jumlah data yang sangat besar untuk pembangkit supercell. Hal ini memungkinkan untuk menciptakan pencahayaan dan komposisi gambar sebelum me-render data.