The Princess and The Frog, Sebuah Improvisasi dari ‘The Frog Princess’

99

Film Avatar sudah memperlihatkan kita betapa canggih dan majunya teknologi dunia. Siapa sangka hampir di saat yang bersamaan, Disney malah meluncurkan film animasi dua dimensi yang sepertinya terlihat ketinggalan zaman.

 

Namun, bukan Disney namanya kalau tidak menampilkan sesuatu yang berbeda di setiap film-filmnya. Yap, ternyata cerita di film The Princess and The Frog tidak sama dengan kisah Puteri dan Pangeran Kodok yang pernah kita kenal (“The Frog Princess” karya E.D. Baker). Ada improvisasi mendasar yang dilakukan Disney hingga menjadi alur cerita yang baru.

 

Kisahnya, Pangeran Naveen dari negeri Maldonia dipaksa oleh ayahnya, Raja Maldonia, untuk menikahi seorang gadis karena sifatnya yang suka berganti-ganti pacar. Ayahnya lalu mengancam agar Naveen segera menikah atau ia tidak mendapat warisan sama sekali.

 

Namun sang Pangeran lebih dulu disihir menjadi kodok oleh dukun voodoo Doctor Facilier, karena sang dukun ternyata juga menyukai Charlotte La Bouff, seorang anak orang kaya yang tadinya akan dinikahi Naveen. Facilier pun berkata kutukan itu akan hilang jika Naveen dicium oleh seorang Puteri lainnya.

 

Naveen akhirnya datang ke New Orleans, Amerika Serikat. Di sana, ia bertemu dengan Tiana Le Bouff, seorang pelayan rumah makan yang bercita-cita memiliki restoran sendiri. Pangeran itu mengira Tiana adalah puteri yang harus menciumnya agar ia bisa kembali jadi manusia.

 

Ia lalu berusaha meyakinkan Tiana jika gadis tersebut bersedia menciumnya maka ia akan berubah kembali menjadi seorang pangeran yang tampan. Namun sayang, setelah dicium, bukannya Naveen menjadi manusia tapi malah Tiana menjadi kodok.

 

Seperti film kartun lainnya, The Princess and The Frog dibuat dengan cara tradisional, yaitu digambar dengan tangan alias tanpa menggunakan komputer. ‘Kemunduran’ yang dilakukan Disney memang mengundang banyak keraguan pada penonton karena sebelumnya Walt Disney Comapany susah sukses dengan film-film animasi tiga dimensi seperti Toy Story, Finding Nemo, Wall-E atau Up.

 

Tapi ternyata justru di situlah kunci kesuksesan film arahan dua sutradara, Ron Clements dan John Musker ini. Fatchur Rochim pada situs resensi film di kapanlagi.com menyatakan, diperkenalkannya teknologi animasi tiga dimensi memang hanya menjanjikan satu hal, tampilan visual yang sangat realistik dan menarik

 

“Disney mencoba menunjukkan pada dunia kalau untuk membuat film animasi yang sukses tidak melulu harus bertumpu pada sisi visual saja karena masih banyak faktor lain yang bisa dibuat mendongkrak pamor sebuah film animasi,” tuturnya.

 

Factur juga menjelaskan, saat film ini diramu dalam pola cerita khas Disney dan dituangkan dalam bentuk naskah oleh tiga penulis yang tampaknya tahu benar bagaimana membuat dialog yang bisa menghidupkan gambar-gambar bergerak ini, hasilnya adalah sebuah tontonan yang menarik meski minus teknologi tiga dimensi. [Feby]

 

Jenis film    :    animasi, musikal/ semua umur
Sutradara   :    John Musker, Ron Clements
Penulis       :    John Musker, Ron Clements, Rob Edwards
Produser    :    Peter Del Vecho
Distributor  :    Walt Disney Pictures
Durasi        :    97 menit
Official Site:    http://disney.go.com/disneypictures/princessandthefrog