Kiamat 2012: Antara Ramalan dan Kenyataan yang Ada

448

Isu fenomena alam yang dikaitkan dengan penanggalan memang menjadi pembicaraan yang tidak pernah selesai. Misalnya pada 6 Juni 2006, yang jika disingkat menjadi 666  yaitu angka setan, sehingga banyak orang yang menganggap tanggal tersebut sebagai hari sial. Atau pada 9 Sepetember 2009 (999), saat kebanyakan orang menganggap nomor 9 sebagai angka keberuntungan, banyak orang yang menikah atau ‘menyengajakan’ kelahiran pada tanggal tersebut.

 

Hingga belakangan ini muncul fenomena tahun 2012 yang diramalkan oleh suku Maya sebagai hari kiamat. Film dengan judul yang sama di awal November lalu ini ‘menyatakan’ bahwa kiamat terjadi pada tanggal 12 Desember 2012. Jika disingkat, maka deretan tanggal, bulan dan tahun tersebut pun menjadi angka cantik, 121212.

 

Padahal Apolinario Chile Pixtun selaku tetua Suku Maya mengatakan, hal tersebut hanya berasal gambaran orang-orang Barat dan bukan berasal dari suku mereka. Bahkan jika sukunya ditanyakan apakah mengerti benar hal tersebut, mereka justru tidak mengetahuinya.

 

Keraguan ini diperkuat dengan data pada stone tablet (tablet batu), yang menjadi dasar argumentasi kiamat, tidak terbaca semua karena ada bagian yang terlewatkan. Hal serupa juga dikatakan David Stuart, seorang peneliti Suku Maya dari Universitas Texas, Amerika Serikat. Baginya, ramalan kiamat 2012 tak berdasar

 

“Suku Maya tidak hendak mengatakan dunia akan berakhir, namun sekadar merekam ulang tahun penciptaan,” ujarnya.

 

Saking hebohnya perihal kiamat yang terjadi akibat fenomena alam ini, organisasi bidang antariksa di Indonesia dan Amerika pun angkat bicara.

 

NASA: “Ini Peristiwa Tahunan yang Tak Ada Artinya”

Para ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA- National Aeronautics and Space Administration) pada halaman di situs resminya menyatakan bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi terhadap Bumi pada 2012.

 

Menurut mereka, planet bumi masih berada dalam kondisi baik-baik saja meski telah berumur lebih dari empat juta tahun. Mitos seputar 2012 yang mengatakan planet akan berbaris sejajar dan menabrak Bumi itu tidak benar. Kalaupun hal itu terjadi, efeknya terhadap Bumi tak begitu besar.

 

“Setiap Desember Bumi dan matahari sejajar dengan pusat perkiraan Galaksi Bima Sakti. Kendati demikian, hal ini merupakan peristiwa tahunan yang tak ada artinya,” tulis mereka.

 

Jika prediksi yang mengatakan akan terjadi tabrakan antar bumi dengan planet lain, pastinya para astronom dunia sudah bisa memprediksi hal ini puluhan tahun sebelumnya. Menurut NASA, para ilmuwan yang kredibel di dunia tahu persis tidak ada ancaman yang berhubungan dengan 2012.

 

Bahkan NASA sendiri tidak mendeteksi adanya penjajaran planet di angkasa dalam puluhan tahun ke depan.

 

“Meskipun terjadi penjajaran planet di atas sana, seperti yang telah diramalkan, tetap saja efeknya masih bisa kita hindari,” ujar pihak NASA.

 

LAPAN: “Fenomena ini Disebut Kiamat Scientific

Penolakan NASA atas terjadinya kiamat pada 2012 juga diamini oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional di Indonesia (Lapan). Menurut Ketua Lapan Adi Sadewo, perkiraan tersebut sebenarnya merupakan fenomena alami berupa aktivitas maksimal matahari yang rutin terjadi secara berkala setiap 11 tahun sekali dan dalam ilmu sains, fenomena ini disebut sebagai kiamat scientific.

 

“Kita mengenal dua kiamat. Satu adalah kiamat reliji yang diyakini setiap umat sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Kedua adalah kiamat scientific,” kata Adi.

 

Menurutnya, para astronom menggambarkan kiamat scientific sebagai aktivitas kekuatan gravitasi matahari yang sangat kuat dan setiap 11 tahun sekali perilakunya meningkat. Saat tarik menarik gravitasi demikian kuat dan tidak tertahankan lagi, hal ini akan menyebabkan ledakan hidrogen.

 

Ketika mengalami aktivitas maksimal, matahari mengeluarkan radiasi yang bisa mempengaruhi Bumi. Saat gravitasinya melemah, matahari akan mengembang dan Bumi bisa masuk ke dalam apinya. Namun menurut Adi, sejauh pengamatan Lapan hingga saat ini yang terlihat hanya aktifitas matahari yang wajar, belum ada gejala yang perlu ditakutkan.

 

“Saat matahari akan melakukan aktivitas maksimal, mulai sekarang bisa terdeteksi bagaimana perilakunya,” tandasnya.

 

[Feby]

Sumber: liputan6.com dan techno.okezone.com