Pemain Lokal, Rebut Hati Anak Negeri

116

Beberapa tahun terakhir komputer jenis notebook tengah digemari. Merek-merek lokal pun ikut meramaikan pasar. Mereka harus bertarung ketat dengan merek lain yang sudah mendunia.

Beberapa tahun terakhir komputer jenis notebook tengah digemari. Merek-merek lokal pun ikut meramaikan pasar. Mereka harus bertarung ketat dengan merek lain yang sudah mendunia. Satu lagi merek lokal, Build Your Own Notebook (BYON) hadir untuk pasar Indonesia. Dengan berorientasi ke pengguna, personalisasi merupakan hal utama yang ditonjolkan notebook ini. Diluncurkan oleh PT Leadvision Technology, BYON yang akan didistribusikan melalui PT Astrindo Senayasa ini memberanikan diri ”bermain” di industri notebook Indonesia. ”Kami menawarkan konsep yang berbeda karena mudah dipersonalisasi. Jadi pengguna dapat memiliki notebook dengan spesifikasi yang diinginkan juga dengan tampilan panel dengan desain yang sesuai dengan pribadi pemiliknya,” jelas Raymond Firdauzi selaku Marketing Manager BYON. Jajaran notebook BYON, dijelaskan Raymond, memiliki spesifikasi prosesor minimal menggunakan Intel Core 2.”BYON tidak menggunakan prosesor dibawah Core 2 dan sudah siap menggunakan prosesor terbaru dari Intel yaitu Core 2 Duo,” tambah Raymond. Untuk target penjualan, Leadvision yang membidik kelas atas untuk produknya ini optimis meraup 10 hingga 15 persen dari total penjualan notebook di Indonesia hingga akhir tahun 2006 ini. Seperti dijelaskan Raymond, keleluasan personalisasi yang ditawarkan BYON meliputi pemilihan spesifikasi notebook, melakukan upgrade prosesor serta melakukan kustomisasi pada tampilan panel notebook. ”Bila notebook lain harus mengganti notebook secara total bila ingin mengupgrade prosesor, BYON tidak,” tutur Raymond. ”Kalau bosan dengan tampilan notebook, bisa bebas mencopot pasang panel dengan desain yang baru,” jelasnya. BYON juga merupakan manufaktur pertama di Indonesia yang menerapkan konsep standardisasi Common Building Block (CBB) yang diverifikasi oleh Intel. CBB didasari dengan 7 komponen yang menjadi standard yaitu LCD, keyboard, baterai, power adapter, optical drive, hard disk dan CNP (Customizable Notebook Panel). Dengan CBB, diklaim akan memudahkan proses purna jual bila terjadi kerusakan pada notebook, sehingga bila terjadi kerusakan pada komponen tersebut, tidak lagi menyulitkan penggunanya. Notebook BYON, akan dilempar ke pasar Indonesia dengan harga termurah 995 dolar AS. ”Harga notebook akan sangat tergantung dengan kostumisasi yang dilakukan,” jelas Raymond. ”Tidak ada ukuran harga bila sudah bicara kostumisasi,” tandasnya. Pemain notebook lokal lainnya adalah Axioo yang menargetkan dapat menguasai lima persen pangsa pasar notebook atau komputer jinjing di Indonesia dan secara global sampai akhir tahun 2008. ”Kami menargetkan lima persen market share di Indonesia sampai akhir 2008,” kata Product and Market Director Axioo International, Yustina dalam jumpa pers peluncuran produk notebook Axioo, Zetta series di Jakarta beberapa waktu lalu. Yustina mengatakan pasar notebook di Indonesia pada 2008 diperkirakan mencapai 700.000 sampai 800.000 notebook. Pada akhir 2009, Axioo menargetkan dapat meraih 10 persen pangsa pasar notebook di Indonesia. Sementara pada 2010, Axioo menargetkan dapat menjual satu juta notebook di seluruh dunia. Pada kesempatan yang sama, Managing Director Axioo International, Stephen Lim mengatakan Axioo melihat adanya pertumbuhan penjualan notebook dari tahun ke tahun di seluruh dunia. Pertumbuhan penjualan notebook tersebut, lanjut Stephen dikarenakan gaya hidup orang yang berubah dari penggunaan komputer rumah (personal computer) menjadi komputer jinjing yang bisa dibawa kemana-mana dan bisa melakukan berbagai hal seperti internet dan untuk melakukan bisnis. Stephen mengutip data dari Gartner bahwa penjualan notebook pada 2006 mencapai 81,2 juta notebook di seluruh dunia, sedangkan pada 2007 tercatat penjualan notebook sebanyak 103,2 juta unit. Data dari Gartner itu memprediksikan adanya pertumbuhan sebanyak 20 persen penjualan notebook pada 2008. Akan tetapi Stephen enggan mengungkapkan total penjualan notebook Axioo di Indonesia dan di seluruh dunia pada kurun waktu 2007. Sementara itu, Zyrex sebagai salah satu pemain lokal di industri komputer juga tak mau ketinggalan. Perusahaan yang telah hadir lebih dari satu dekade lalu ini telah meluncurkan produk notebooknya sejak tahun 2001. ”Kami sangat peduli pada upaya peningkatan penetrasi PC di Indonesia,” tutur Timothy Siddik, Presiden Direktur Zyrex. Untuk itu, ia selalu berusaha menciptakan inovasi-inovasi baru untuk menekan biaya produksi. Diakui Timothy hal tersebut memang tidak mudah. Meski demikian, hingga saat ini ia yakin harga notebook Zyrex di pasaran sangat bersaing tanpa harus mengorbankan kualitas. Bersaing Melayani Tren meningkatnya pengguna notebook di tanah air bagai pedang bermata dua. Di satu sisi tren ini mendorong tingkat penetrasi komputer ke seluruh lapisan masyarakat. Namun di sisi lain, persaingan diantara para pengusaha notebook white box – istilah yang kerap digunakan untuk menyebut industri perakitan komputer – semakin ketat pula. Data IDC menyebutkan, pada kuartal keempat 2007 komposisi pengguna notebook mencapai 69 persen sementara pengguna komputer desktop hanya 31 persen. Kecenderungan ini diperkirakan masih terus meningkat sampai tahun 2010 dimana populasi komputer di Indonesia akan menyentuh angka tiga juta. Kondisi ini mendorong produsen notebook lokal untuk memasang strategi guna memuaskan penggunanya. Menurut Yustiana, Axioo menawarkan layanan purna jual yang tersebar hampir di seluruh Indonesia. Meski pusat servisnya hanya terdapat di enam kota besar (Bandung, Banjarmasin, Jakarta, Makasar, Manado, dan Surabaya). ”Kami melatih mitra kami untuk dapat mendeteksi dan menangani masalah-masalah ringan yang terjadi pada produk kami,” jelasnya. Jika masalah itu belum dapat diatasi mitra resmi tadi akan mengirimkannya ke pusat servis resmi. Tidak hanya itu. Guna meraih hati calon pengguna notebook di Indonesia, Axioo juga menawarkan harga periferal yang terjangkau. Sebagai contoh, jika monitor LCD mengalami kerusakan, pengguna cukup merogoh kocek sekitar dua juta rupiah. Harga ini disebutkan Yustina lebih murah dibandingkan merek notebook multinasional. Senada dengan Axioo, Zyrex juga mengedepankan soal layanan untuk meraih pangsa pasar. ”Pusat servis kami tersebar di lima puluh empat kota seluruh Indonesia,” ungkap Timothy bangga. Tapi itu bukan berarti Zyrex adalah notebook kacangan. Terbukti perusahaan ini telah berhasil menggenggam sertifikasi ISO 9001 : 2000 sebagai pengakuan atas kualitas produk dan standar layanan purna jualnya yang prima. Unggul dari sisi teknologi, inovasi dan kualitas notebook, BYON sangat percaya diri melenggang di pasar notebook lokal. ”Tergabungnya BYON di The World& Mobile Alliance menjadikan BYON unggul dibandingkan merek-merek lain, karena berorientasi pada penggunanya. Dengan harga yang pantas, BYON menawarkan teknologi terbaru dan standarisasi yang memudahkan pengguna dalam perawatannya,”tukas Raymond. Pertarungan ini masih terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Pembangunan citra positif terhadap produk lokal, khususnya notebook, menjadi salah satu kunci untuk dapat bersaing. Dukungan berupa inovasi dari para produsen adalah faktor utama terwujudnya kepercayaan konsumen. [Agung]